Kosong ini hanyalah coba yang menguji kesabaran
Adalah waktu yang mengukur kesetiaan
Semalam bahkan sepanjang malam
Sampai tibanya masa akan berwujud pengertian atau ketidak pedulian
Barusan mimpi telah memanjakan aku sesaat
Menegurku dengan teriak menyentakkan aku
Serta meraupi mukaku dengan air mata hilang ketika terjaga
Dan menampar tubuhku tergeletak akhirnya sadar
Tawa kita kemaren adalah mentari cahaya dedaunan pagi
Dan canda kita dulu adalah kicau kutilang di dahan cemara
Namun tawa dan canda itu adalah masa lalu
Tidak lagi ada sekarang seperti pijar menerangi temaram
Walau kadang itu menjadi candu perindu jiwa yang ingin terbebas
Masih sering aku tanyakan tentangmu pada sunyi yang dungu
Apakah masih seperti senja kau terlukis indah pelangi
Atau seperti embun di ilalang kering dalam fajar mengusap gelap
Bahkan mungkin seperti langit bermendung simpan kelabu warna hati
Tak aku tahu itu?
Yang aku tahu ;
Kosong ini adalah coba…
Sepi ini adalah uji..
Dan cinta ini adalah kosong dan sepi…
14 September 2008
Sajak Kosong
Batu Semalam (Malam bersajak di bait malam)
Inilah batu semalam yang kita pahatkan dingin tengah malam
Menanti malam sepanjang sunyi selepas perjalanan
Terbujur kaku merapat jiwa kita terbekukan malam;
Oleh kabut turun mengembun malam basah perlahan
Hinggq Terbaring letih di malam pusara tanah berdebu ;
Di lintas malam jejak kaki jelang fajar hari
Mungkinkah batu semalam adalah mimpi semalam; setiap malam
Sebagai prasasti saksi pertumpahan semalam;
Di rintang semalaman dalam satu malam
Terdesah harap kelam terlalui malam pekat hitam;
Di perhentian sempat lelah terlebur peristirahatan singgah malam
Batu semalam telah kita tinggal esok hingga beribu malam
Mengingatkan cerita serta tawa semalam mengusik senyap hilang ;
Di naung gemuruhnya Abu abu langit malam
Menyisakan hangat canda semalam tergema mengawan ;
Di tebing sunyinya malam ketinggian ungaran
Inilah batu semalam….
Selamanya akan tetap menjadi “batu semalam”
Karena batu ini telah menyimpan cerita kita tadi malam
Di curamnya malam puncak ungaran
Batas langkah kita
badai gurun akan membawa aku, menghapus jejakku di pasir berdebu
angin pantai akan menghempasku, memporandakan istana pasirku
gelombang tenang akan menghantarku berlayar ; ke dunia lain , menghanyutkan rasa segala
debu-debu jalanan menumbuhkan aku liar
di kolong jembatan hati malamku bersemayam
aku ini hanya pengemis nasib
peminta minta takdir bermuka garang
baju compang camping dan balutan sutra
telah menjadi batas aturan mitos adat dan budaya
itu nyata, benar adanya…
kita ini hanyalah pemeran drama tuhan
telah jelas tokoh tergambarkan alur
juga aturan mainya…
aku ini ilalang liar
yang dikawini serangga-serangga kurang ajar
hingga matipun aku tetap liar
termakan serangga-serangga kurang ajar
tapi kau adalah awan cakrawala
megah teratas pandangan mempesona
disusunan beratap-atap langit
hingga nantipun kau tetap megah…
kita ini beda, sebeda senyatanya tak sama
tak usah paksa mencoba sebrang lautan api
akan percuma, terbakar nantinya di dasar laut menenggelamkan
jalan ini coba aku mengerti, maknai keindahan yang terbingkai
hanya bisa dipandang, tak dimiliki
tak kusangka salah jika hati telah bercermin
mata telah tersayup
langkah telah terkubur
cobalah kita sadari nurani, terima peran yang ditokohkan tuhan
ayolah kita pahami diri, itu bukan berarti menuruti kata hati
marilah kita tanyakan akal budi, ini berarti kita benam egonya rasa hati
kelak pasti kau akan tahu itu?
Akhirnya…
aku hanya bisa bilang padamu;
rajut perjalanan hari esokmu, ada disana bintang lain kan kau raih
urai cita-citamu itu, jangan sampai itu terhalang rasa memenjara
rangkai bunga-bunga taman hidupmu, dan biarkan kumbang yang berhak akan mencumbu madumu
karena…
aku ini hanyalah pengembara mimpi, petualang hayal ; pencari arti
bukan aku yang pantas menempati singgasana itu
senja telah menantiku untuk kembali terlelap menanti pagi
dan kau harus tetap teruskan jalanmu
Kuingin
Telah tiba satu malam yang telah lama terdiam dalam kebisuan hati
Malam ketika tak kuingin ada tirai yang terselubung… Membalut…Menutupi
Tak ada lagi rantai yang mengikat…Menjerat… Menghalangi
Dan tak ada lagi jeruji yang mengurung…Memenjara hati
Malam ini…
Kuingin kita menelanjangi hati kita masing-masing
Hingga tak berbusana kebohongan ataupun pengingkaran nurani
Lantas hati kita bicara saling ungkap arti kejujuran
Bercakap lirih tentang hakikat kebenaran hati
Malam ini..
Kuingin kita membuka pintu hati kita masing-masing
Pintu yang sejak lama terkunci rapat oleh rahasia hati
Tersembunyi dalam langkah dan tutur kata
Dan hilang sepanjang diam membatu dalam kehendak
Malam ini…
Kuingin kita membiarkan kemana jiwa kita kan mengalir
Di lembah teduh mendamaikan dalam keabadian
Membebaskan jiwa kita lepas terbang melayang
Di kaki langit berawan berarak arakan berkejaran
Malam ini …
Kuingin kita merebahkan tubuh bersandar dalam kesadaran
Memendam dan mengubur egonya rasa hati
Dan menayakan kebenaran akal budi dan nurani
Agar terhapuslah prasangka yang sering kali mengoyak keyakinan
Malam ini..
Kuingin tak ada lagi mimpi yang membuai semu
Membayang tersamar hilang saat sadar kita terjaga
Hingga semua menjadi jelas tergambar dalam kanvas sesungguhnya;
Dalam kenyataan sebenarnya
Dan …
Malam ini…
Biarkanlah jiwa kita tetap terbekukan dingin
Saling menatap dalam pandang kosong mata kita
**********************
Puisi ini sebenarnya sudah lama ingin aku berikan dan aku bacakan buwat kamu ….
agar semua menjadi jelas dengan kejujuran nurani, tapi inilah salahku yang tak lekas menjadikan itu jelas. dan tetap aku biarkan itu menjadi duri dalam diriku, mungkin juga dirimu…..
maaf kuucap sedalam hatiku; untukmu. atas semua kesalahanku ini, kesalahan yang telah membiarkan waktu semakin membunuh kita….
setelah semua ini nanti menjadi jelas;
kuingin kaki kaki kita tetap terbiasakan oleh waktu sebagaimana dulu kita telah dibiasakan oleh waktu
dan tak kuharap apapun kecuali nanti kita bisa saling mengerti dan memahami…..
Tanyaku
Aku bertanya pada dinding tuli
Tentang aku??
Mengapakah aku??
Hanya tersisa reruntuhan hati mati
Aku mengadu pada batu bisu
Tentang aku??
Apakah aku??
Hanya setumpuk kepingan jiwa pecah
Aku berkisah pada merpati bercumbu
Tentang aku??
Bagaimanakah aku??
Hanya tubuh terpasung pasrah oleh cemburu
Aku bercerita pada mentari beranjak senja pergi
Tentang aku??
Inikah aku??
Hanya jeritan berderai tangisan terdengar sembilu sendu
Lalu..
Mengapakah aku??
Apakah aku??
Bagaimanakah aku??
Inikah aku??
Hanya tanyaku yang terus bertanya pada “aku” yang bertanya
Bersabarlah (catatan buat kakakku tercinta)
Kak, bersabarlah…
Sepahit apapun getir kehidupan yang kau rasa
Sesakit apapun luka yang kau derita
Sesusah apapun jalan yang kau telusuri
Tegarlah, seperti karang di lautan yang tak tergoyahkan riak gelombang
Kak, bersabarlah…
Aku disini, disampingmu kan menghapus air matamu
Aku disini, menemanimu mengusir sepimu
Aku disini, senantiasa menjaga bintang-bintangmu
Aku disini, selalu menjadi dermaga jiwamu
Kak, bersabarlah…
Perpisahan ini bukanlah akhir dari segalanya
Tapi awal perjalanan kakak tuk merangkai cerita baru
Kesedihan bukanlah gundukan tanah yang akan mengubur hatimu
Tapi perkasa langit yang akan menjunjung hatimu
Kak, bersabarlah…
Tak perlu kakak takut…
Cengkramlah congkaknya mataharimu dalam genggaman teduhnya rembulanmu
Meski bintang-bintangmu telah terkoyak bersama luka deritamu
Kelak, dirinya kan bersujud menangis tak bisa mengurai air matanya
Kak, bersabarlah…
Tak perlu kakak risau…
Yakinlah, suatu ketika akan kau temukan bersama takdirnya Tuhan
Dalam dekapan kedamaian dan cinta kasihNYA…
Cerita Kupu-kupu
Kupu-kupu liar hinggap di ranting kelopakku
Mencumbu bungaku, mencuri maduku
lalu pergi…
Kemudian datang kupu-kupu hitam putih
Hanya singgah, bermain dengan bungaku
lalu pergi …
Lalu kupu-kupu kecil berbondong-bondong
Kelihatanya sedang menikmati aroma bungaku
Namun tidak mencicipi, hanya menciumi
lalu pergi…
Tapi..??
Dimanakah kupu-kupu yang kutunggu
Sejak pagi tadi, hingga sore ini…
Yang biasanya singgahi setiap hari, tapi tak datang hari ini
Mungkin malam nanti, ketika kupu-kupu lain terlelap
Dia akan datang mencumbui bunga hatiku
