Hari telah redup berkubang debu bertabur
Semenjak tinggal bayang mengenang sekaran bunga
: pada sosok telah berpulang
Masih tergema mutiara nasihat ; semasa dulu binar bintang bercahaya
Melukis pada gurat kanvas yang terkoyak rindu
Hari telah beranjak mengejar jejak, tersapu luka menghulu jiwa
Namun diam masih menjebak pilu, tertancap duri diam-diam menikam
Hingga luka tetap menganga menyebar perih, ke sekujur tubuh terbujur sendu
Bersama rintih tangis menggenang basah perlahan
: yang tak lekas terhapus sejak kehilangan
Hari telah sering menegur sapa pada langit telah lama muram
Bercerita tentang naskah drama kehidupan ; yang tak jelas beralur suka atau duka
Menawarkan lakon pengganti sang sosok ; yang kini masih diam bersamayam ruhnya
Dalam jiwa bunda dan empat dewi merindukan kehangatanya lagi ; yang telah terkubur tenang
Lirih suara bisu berontak menolak sosok siapapun ingin menempati
Tak rela bila kasih yang masih lekat menyekat, akan terhapus oleh sosok lain selainnya
Walau bersorak caci tingkah saudara mengujat merasa seperti dewa
Walau serasa menusuk jantung makian mereka yang tak mengerti
Hari telah beranjak pulang ke peraduan petang
Dan engkau harus tetap merajut benang hidupmu
Pada selembar kain esok kelak kan kau sulam masa depanmu
: dengan jubah ketegeran nurani, untuk bisa bangkit dari luka
Demi bundamu…
Demi adik-adikmu..
Juga demi ayahmu disana…
14 September 2008
Hari Telah…(kesaksian buat orang yang aku sayangi)
Sekarang…!!! Buktikan…!!!
Revolusi telah merubah alam, dan kau…!!!
Masihkah hanya diam di langkahmu tak bergerak
Seperti dongohmu telah kau rasa itu mengasyikan
Haripun kau sadari telah menghentikan detak hatimu
Tapi apa yang sedang kau pikirkan…???
Apa yang sedang kau perbuat…???
Kau hanya bisa menghayalkan masa esokmu
Tak coba kau raih itu, tak pula ayunkan kakimu
Sepertinya kau adalah sang pemimpi sejati
Aku tahu mungkin sudah kau rencana harimu
Dalam benakmu layaknya peta hidupmu
Tapi apa..???
Itu hanya gambaranmu semata ,Hanya sebatas imajinasimu saja
Apa kau sudah puas dengan menyandang gelar “ Pecundang “
Gelar yang kau pertaruhkan dengan sikapmu yang anti “ Resiko “
Jika kau menolak dan tak setuju dengan itu
Sekarang biarkan dunia bisa saksikan bahwa kau “ Bukan pecundang “
Kalau engkau adalah “ Pejuang hidupmu ” yang suka “ Resiko ”
Karena hidup ini penuh “ Resiko ” dan “ Tantangan ”
Dan kau harus tahu itu, tahu sebenar-benarnya
Biarkan pula aku saksikan bahwa kamu “ Bisa ”
Merubah mimpi dan hayalmu jadi realitamu juga kenyataanmu
Bukan imajinasi juga gambaranmu semata
Aku yakin kamu “ Bisa”, kamu “ Mampu ”
Lakukan sekarang, jangan ulur lagi waktumu
Jangan tunggu esok hari kan tiba mengejarmu
Sekarang …!!!!
Buktikan…!!!!
Biarlah
jangankan bercakap…!!!
Menyapapun kuragu,nanti malah terbelit lidahku
Cukuplah langkahku memberi tahu, tak perlu sampai jabat tanganku
Biarlah kehendakku yang bergejolak, tak perlu tubuhku harus berontak
Jangankan mengadu…!!!
bicarapun enggan, nanti malah luka kemudian
cukuplah sepiku yang berucap, tak perlu sampai salamku mengungkap
biarlah mataku yang berujar, tak perlu kupaksa itu benar
Tidak bercakap…!!! Tidak pula mengadu..!!
Karena aku lebih baik bisu, nyanyikan harmoni memetik dawai sendu
sekalipun detak nadi hentikan denyut jantungku
aku tetap ingin diam….
Tidak bercakap..!!! tidak pula mengadu…!!!
Hatiku Dicuri
Kucari-cari hatiku yang telah dicuri
Di rindang cemara dan jalanan
Di kerumunan keramaian lalu ilalang
Namun tidak ada….
Kutanya pada sepiku membisu
Telingaku tahu, tak mau mendengarku
Acuhku bingung, siapa berani mencuri hatiku..!!
Disembuyikan dimana jantung cintaku itu..!!
Kupegang dadaku, benarkah telah hilang hatiku..??
Kurasa denyutan ada di kepalaku,bukan dadaku
Kukepal tangan menampar mimpiku
Tetap saja aku tak sadar…
Kalau aku telah kehilangan hatiku
Hatiku Dicuri
Kucari-cari hatiku yang telah dicuri
Di rindang cemara dan jalanan
Di kerumunan keramaian lalu ilalang
Namun tidak ada….
Kutanya pada sepiku membisu
Telingaku tahu, tak mau mendengarku
Acuhku bingung, siapa berani mencuri hatiku..!!
Disembuyikan dimana jantung cintaku itu..!!
Kupegang dadaku, benarkah telah hilang hatiku..??
Kurasa denyutan ada di kepalaku,bukan dadaku
Kukepal tangan menampar mimpiku
Tetap saja aku tak sadar…
Kalau aku telah kehilangan hatiku
Sajak Kosong
Kosong ini hanyalah coba yang menguji kesabaran
Adalah waktu yang mengukur kesetiaan
Semalam bahkan sepanjang malam
Sampai tibanya masa akan berwujud pengertian atau ketidak pedulian
Barusan mimpi telah memanjakan aku sesaat
Menegurku dengan teriak menyentakkan aku
Serta meraupi mukaku dengan air mata hilang ketika terjaga
Dan menampar tubuhku tergeletak akhirnya sadar
Tawa kita kemaren adalah mentari cahaya dedaunan pagi
Dan canda kita dulu adalah kicau kutilang di dahan cemara
Namun tawa dan canda itu adalah masa lalu
Tidak lagi ada sekarang seperti pijar menerangi temaram
Walau kadang itu menjadi candu perindu jiwa yang ingin terbebas
Masih sering aku tanyakan tentangmu pada sunyi yang dungu
Apakah masih seperti senja kau terlukis indah pelangi
Atau seperti embun di ilalang kering dalam fajar mengusap gelap
Bahkan mungkin seperti langit bermendung simpan kelabu warna hati
Tak aku tahu itu?
Yang aku tahu ;
Kosong ini adalah coba…
Sepi ini adalah uji..
Dan cinta ini adalah kosong dan sepi…
Batu Semalam (Malam bersajak di bait malam)
Inilah batu semalam yang kita pahatkan dingin tengah malam
Menanti malam sepanjang sunyi selepas perjalanan
Terbujur kaku merapat jiwa kita terbekukan malam;
Oleh kabut turun mengembun malam basah perlahan
Hinggq Terbaring letih di malam pusara tanah berdebu ;
Di lintas malam jejak kaki jelang fajar hari
Mungkinkah batu semalam adalah mimpi semalam; setiap malam
Sebagai prasasti saksi pertumpahan semalam;
Di rintang semalaman dalam satu malam
Terdesah harap kelam terlalui malam pekat hitam;
Di perhentian sempat lelah terlebur peristirahatan singgah malam
Batu semalam telah kita tinggal esok hingga beribu malam
Mengingatkan cerita serta tawa semalam mengusik senyap hilang ;
Di naung gemuruhnya Abu abu langit malam
Menyisakan hangat canda semalam tergema mengawan ;
Di tebing sunyinya malam ketinggian ungaran
Inilah batu semalam….
Selamanya akan tetap menjadi “batu semalam”
Karena batu ini telah menyimpan cerita kita tadi malam
Di curamnya malam puncak ungaran
